Di era digital yang semakin maju, orang tua milenial menghadapi tantangan baru dalam mengasuh anak usia dini. Salah satu dilema terbesar adalah keseimbangan antara screentime (waktu yang dihabiskan anak dengan gadget) dan quality time (interaksi bermakna antara orang tua dengan anak). Teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, mulai dari hiburan hingga pendidikan. Namun, di sisi lain, terlalu banyak paparan gadget dapat berdampak negatif pada perkembangan anak, baik dari sisi sosial, emosional, motorik, maupun kognitif anak. Secara sosial, anak yang terlalu banyak screen time cenderung kurang terampil dalam berkomunikasi dua arah bahkan mengalami keterlambatan bicara (speech delay). Secara emosional, anak menjadi mudah tantrum saat gadget diambil oleh orang terdekatnya. Secara motorik anak mengalami risiko obesitas, keterlambatan perkembangan seperti keseimbangan, kekuatan, dan kelincahan. Sedangkan secara kognitif, anak menjadi sulit fokus dalam menyelesaikan suatu aktivitas.
Sebagai seorang pendidik, banyak orang tua milenial menyampaikan keluh kesahnya bahwa mereka sering kali terjebak dalam dilema antara memanfaatkan teknologi untuk menenangkan anak dalam pengasuhan dan kekhawatiran akan dampak negatif screen time yang berlebihan. Adapun beberapa faktor yang memengaruhi screen time pada anak, di antaranya yaitu pertama, kebiasaan orang tua. Orang tua milenial yang terbiasa dengan teknologi sering kali memperkenalkan gadget sejak dini pada anak agar tidak ketinggalan informasi. Kedua, adanya tuntutan pekerjaan. Di mana kesibukan orang tua membuat mereka menggunakan gadget di depan anak. Ketiga adanya konten edukatif yang menarik, seperti YouTube Kids, game interaktif, dan aplikasi belajar membuat anak betah berlama-lama menonton gadget. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan strategi yang tidak hanya membatasi penggunaan gadget, tetapi juga menciptakan alternatif yang lebih bermakna.
Adapun strategi atau tips untuk menyeimbangkan antara screen time dan quality time bersama anak yaitu sebagai berikut:
1. Orang tua membuat aturan yang jelas dan konsisten bersama anak
Penggunaan screentime pada anak usia dini (0-6 tahun) perlu dikelola dengan aturan yang jelas, realistis, dan konsisten agar bermanfaat sekaligus aman bagi tumbuh kembang anak. Adapun aturan yang bisa diterapkan oleh orang tua dalam screen time anak yakni :
2. Tetapkan batasan waktu yang spesifik
Anak usia 2-5 tahun maksimal 1 jam/hari menonton screen time dengan jarak layar minimal 30 cm, dan hindari sambil tiduran. Contohnya “Kita nonton TV hanya 30 menit setelah makan siang”.
3. Tentukan konten yang boleh diakses
Ayah bunda bisa memilih konten edukatif dan interaktif, seperti Nussa dan Rara, Riko The Series, Kinderflix, dan lain sebagainya. Ayah bunda bisa membuat daftar tontonan yang sesuai dengan usia anak. Jika perlu bisa menggunakan aplikasi parental control berguna untuk alarm dan memblokir konten yang tidak sesuai skrining.
4. Buat aturan penggunaan perangkat
Ayah bunda bisa membuat aturan seperti lokasi screen time misalnya hanya bisa diakses di ruang keluarga. Tidak boleh saat makan atau waktu keluarga. Misalnya dengan kalimat “Tablet hanya dipakai di meja makan, ya. Kalau mau tiduran, lebih baik baca buku”. Posisi jarak layar minimal 30 cm, menghindari posisi tiduran. Ayah bunda bisa mematikan semua gadget 1 jam sebelum waktu tidur, menghindari screen time sebelum sekolah/aktivitas pagi agar anak dapat fokus.
5. Libatkan anak dalam menetapkan aturan
Ajak anak menetapkan aturan misalnya “Kalau terlalu lama lihat HP, mata bisa sakit. Menurut Adik, berapa menit kita harus berhenti?”.
6. Konsisten dalam pelaksanaan
Ayah bunda harus kompak dalam menjalankan aturan screen time, jika bunda berkata “Sudah waktunya matikan”, ayah juga perlu mendukung. Jika anak merengek dan tawarkan aktivitas pengganti, tetap bersikap tegas namun tidak kaku seperti “TV-nya dimatikan sekarang, tapi kita bisa main puzzle bersama!”. Jika anak melanggar, kurangi waktu screen time pada esok harinya, misalnya “Kemarin waktu screen time-nya habis masih minta lagi. Hari ini cuma 30 menit saja, ya”.
Orang tua menjadikan screen time lebih interaktif dan edukatif
Ayah bunda, dampingi anak saat screen time, jangan biarkan anak sendirian menonton gadget. Ayah bunda bisa memilihkan konten berkualitas yang disesuaikan dengan usia anak. Hindari konten pasif yang tanpa adanya interaksi atau tidak ada bunyi. Selain itu hindari konten yang terlalu cepat pergerakannya. Untuk menonton konten screen time, sebaiknya gunakan layar yang lebih besar seperti TV. Selain itu, ayah bunda bisa mengajukan pertanyaan kepada anak setelah menonton screentime dengan menggunakan pertanyaan pemantik. Ayah bunda bisa menggunakan bahasa sederhana dan pendek saat bertanya pada anak, beri jeda anak untuk berpikir dalam menjawab pertanyaan, hindari pertanyaan tertutup, ikuti minat anak.
Berikut contoh pertanyaan pemantik yang bisa diajukan setelah anak menonton video:
Ganti aktivitas screen time dengan aktivitas quality time yang menarik
Ayah bunda bisa mengajak anak untuk melakukan quality time dengan beraktivitas melalui bermain bersama, misalnya bermain bola, bersepeda, puzzle, playdough, membaca buku, dan lain sebagainya. Melalui bermain secara langsung tersebut, anak menjadi terstimulasi perkembangannya.
Orang tua sebagai role model dalam penggunaan gadget
Ayah bunda, anak usia dini (0-6 tahun) cara belajarnya melalui observasi (pengamatan) dan imitasi (peniruan), sama halnya orang tua sebagai model utama dalam penggunaan gadget. Anak-anak akan cenderung mengadopsi kebiasaan orang tuanya, termasuk frekuensi dan cara menggunakan gadget. Jika ayah bunda terus-menerus memegang gadget terutama HP, maka anak akan menganggap hal itu sesuatu yang normal dan anak akan berusaha melakukan hal yang sama. Orang tua yang terlalu sering menggunakan gadget cenderung kurang responsif terhadap kebutuhan anak sehingga memengaruhi ikatan (bonding) dan perkembangan sosial anak. Sebaliknya, jika orang tua disiplin dengan screen time-nya, maka akan lebih mudah menerapkan aturan yang sama pada anak. Dengan menjadi role model yang baik, ayah bunda tidak hanya melindungi anak dari dampak negatif screen time, tetapi juga mengajarkan kebiasaan digital yang bijak sejak dini.
Evaluasi secara berkala
Ayah bunda dapat melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa penggunaan gadget tidak menganggu perkembangan anak.
Menyeimbangkan screen time dan quality time bukan tentang menghilangkan teknologi sama sekali pada anak, melainkan menggunakan gadget secara bijak sembari memaksimalkan interaksi nyata. Screen time pada anak usia dini tidak selalu buruk jika digunakan dengan bijak, tetapi quality time tetaplah kunci utama dalam perkembangan anak usia dini. Dengan menerapkan batasan yang jelas, memilih konten tontonan yang berkualitas, dan orang tua menyediakan waktu interaksi secara langsung, maka orang tua dapat mengurangi dampak negatif gadget sekaligus memaksimalkan tumbuh kembang anak.
Orang tua dapat mengurangi ketergantungan anak pada gadget sekaligus mendukung perkembangan optimalnya. Gadget adalah alat, tetapi kasih sayang dan perhatian orang tualah yang membentuk masa depan anak. Karena teknologi hanyalah sebuah alat, bukan pengganti kasih sayang orang tua. (Findi)