(22 Jan 2026 | 14:07)

NASIB BANGSA = MINIATUR PENDIDIKAN DALAM KELUARGA

     Krisis karakter di suatu bangsa merupakan cerminan dari sebuah penanaman nilai. Nilai merupakan dasar dari sebuah perilaku dalam kehidupan manusia sehari-hari. Banyak kasus yang terjadi di negeri ini yang dapat kita telusuri bahwasanya akar permasalahan dari masalah tersebut karena tidak adanya role model  dalam sebuah keluarga. Masyarakat Indonesia terbiasa dengan adanya common sense yang muncul pada diri anak dan menganggap bahwa anak akan mengerti dengan sendirinya dengan semua pembahasan tanpa terkecuali, akan tetapi orang tua tidak paham bahwa apa yang menjadi pemahaman anak secara otodidak tidak selamanya sesuai dengan dasar atau nilai yang berlaku. Mengapa anak yang menjadi poin utama pada pembahasan ini, karena anak merupakan tonggak masa depan untuk menjadi generasi penerus bangsa. Orang tua yang berhasil ialah orang tua yang dapat mengajarkan anaknya menjadi generasi yang baik.

            Jika kita bandingkan generasi tahun 80-90an sebelum era millennium, bagaimana anak-anak masih bebas bermain di halaman rumah dan mengeksplor diri dengan sumber daya alam disekitarnya. Anak-anak tahun 80-90an tumbuh dan berkembang dengan daya juang yang bisa diacungi jempol, mereka cenderung mandiri karena orang tua memberikan kebebasan bermain dan belajar secara terarah. Dan perlu disampaikan bahwasanya bermaian pada era golden age  (usia 0-6 tahun) merupakan usia yang sangat penting untuk bermain bebas tanpa intervensi gadget dan media elektronik lainnya. Dapat kita lihat anak-anak yang sekarang telah tumbuh dewasa lebih mudah dikontrol jika mereka telah mengalami usia emas yang signifikan dengan kebebasan bermain terarah.

     Perilaku anak yang muncul saat ini hendaknya dibekali dengan kemantapan nilai dan religious. Banyak orang tua yang memberikan alih tangan kontrak nilai dan religi pada pihak lain misalnya sekolah. Perlu disadari bahwasanya Tuhan memberikan anugerah berupa anak hal ini berarti orang tualah yang memiliki kontrak eksklusif dengan Tuhan untuk memberikan penanaman nilai yang utama dan pertama.

     Banyak orang dewasa merasa bahwa mencari nafkah dan bekerja adalah hal utama dan mengesampingkan kebutuhan lahir dan bathin anak. Tanpa disadari orang tua menciptakan benih masalah dalam kehidupan anaknya yang seringkali nampak di luar rumah. Banyak perilaku anak yang bersumber dari permsalahan orang tua, seperti mencari perhatian, temper tantrum, withdrawl, memiliki daya juang dan daya tahan yang rendah, moody, bahkan menyimpan dendam pada orang-orang disekitarnya. Tidak banyak orang tua yang sadar bahwa memberikan pendampingan merupakan kewajiban utama dan perlu dilakukan secara continuitas artinya orang dewasa tidak boleh merasa puas bahwa anaknya telah baik, berprestasi dan sebagainya dalam tahapan tertentu karena anak berproses melalui tumbuh dan kembang dimana mereka telah melewati banyak hal untuk mereka amati dan contoh. Disinilah peran orang tua untuk gencar mmberikan filter dalam kehidupan anak untuk menciptakan anak generasi yang berbudi.

     Orang tua yang berhasil ialah orang tua yang bisa mendidik anak-anaknya berakhlak dan berbudi pekerti yang baik. Tidak menjadi jaminan apapun jabatan dan berapapun materi yang dimiliki oleh orang tua karena semua itu bukan merupakan kesuksesan, tetapi bagaimana orang tua memperlakukan anaknya menjadi anak yang baik secara norma dan agama di masyarakat.

     Seperti yang dikabarkan akhir-akhir ini maraknya kasus LGBT dan kasus lainnya yang serupa bahkan telah memasuki anak-anak dibawah umur. Banyak pihak yang menganggap bahwa kasus tersebut membahayakan dan perlu dihindari padahal jika kita ambil benang merahnya, kasus-kasus yang sedang menjamur di masyarakat bahkan telah menjurus pada anak-anak merupakan hasil dari kurangnya sentuhan orang tua terhadap anak. Walaupun para kaum LGBT merupakan orang dewasa dapat kita telusuri bahwa pada usia emas dan semasa tumbuh kembang orang tersebut tidak mendapatkan role model dalam menanamkan nilai. Utamanya dalam mengajarkan pendidikan seksual, orang dewasa masih perlu banyak belajar apa itu pendidikan seksual dan bagaimana mengajarkannya pada anak. Anak tidak hanya menjadi sebuah “mangga karbitan” yang tiba-tiba matang dan kemudian dinikmati, jauh daripada itu anak perlu tahu apa dasarnya dan bagimana proses dari suatu pembelajaran salah satunya ialah pendidikan seks.
     Hal yang mendasar tetapi sering diabaikan oleh para orang tua bahwa mengenalkan gender dan bagaiana perannya merupakan sebuah bentuk pendidikan seks, anak tidak lagi salah dalam mempersepsikan bahwa anak perempuan memakai celana dan berambut pendek cepak itu boleh atau sebaliknay anak laki-laki dirias atau memakai wangi-wangian berlebihan itu boleh. Dengan demikian anak akan mempersepsikan bahwa semua yang dilakukan anak laki dan perempuan itu sama saja sehingga anak laki-laki suatu hari nanti bisa menjadi anak permepuan begitupula sebaliknya. Hal-hal sederhana yang orang tua sepelehkan seringkali diabaikan dampaknya pada anak pada kurun waktu 5-10 tahun kemudian. Yang menajdi “PR” bagi orang tua ialah sejauh mana pendampingan orang tua dalam menanamkan nilai dan contoh yang baik bagi anak dan apakah orang tua telah menjamin bahwa anak-anak mereka tidak bermasalah dalam segala aspek? mari kita renungkan. Generasi dan nasib bangsa ini ada pada kita, para orang tua.