Pagi itu di sudut ruang kelas TK, seorang anak menangis kencang sambil menghentakkan kakinya. Wajahnya memerah, tangannya mengepal, dan ia menolak diajak bicara. Alasan di balik ledakan emosi tersebut cukup sederhana: mainan favoritnya sedang digunakan oleh teman lain dan keinginannya untuk langsung memainkannya tidak terpenuhi.
Di tengah keriuhan itu, seorang guru perlahan mendekat. Bukannya ikut panik, berteriak, atau langsung menasihati, sang guru justru berjongkok menyamakan tinggi badan, mengambil napas dalam-dalam, dan menatap anak tersebut dengan pandangan yang teduh dan tenang. Ketenangan guru ini perlahan-lahan menular, tangisan anak mulai mereda, napasnya yang terengah-engah menjadi teratur, hingga akhirnya ia bisa mengutarakan kemarahannya lewat kata-kata.
Pemandangan ini bukan sekadar contoh manajemen kelas yang baik, melainkan wujud nyata dari proses regulasi diri (self-regulation) dan ko regulasi (co-regulation) yang berakar kuat dalam teori perkembangan anak.
Memahami Mengapa Anak Usia 3–6 Tahun Mudah Marah
Sering kali kita melihat anak yang marah atau tantrum sebagai anak yang "nakal" atau "sulit diatur". Namun, jika ditinjau dari sudut pandang perkembangan saraf (neurodevelopment), respons tersebut sangatlah alamiah. Pada anak usia 3 hingga 6 tahun, bagian otak yang mengatur emosi dasar dan pertahanan diri (amygdala) sudah berkembang pesat. Sementara itu, bagian otak depan (prefrontal cortex) yang berfungsi untuk berpikir logis, mengendalikan impuls, dan mengelola emosi masih berada dalam tahap awal perkembangan. Ibarat mobil, anak usia dini sudah memiliki sistem pedal gas emosi yang sangat kuat, namun sistem rem logisnya belum terbangun dengan sempurna.
Menurut teori perkembangan sosial Erik Erikson, anak usia 3–6 tahun berada pada tahap Initiative vs. Guilt (Inisiatif vs. Rasa Bersalah). Anak memiliki dorongan dan inisiatif yang besar untuk mengeksplorasi keinginan serta menunjukkan kemandiriannya. Ketika dorongan tersebut berbenturan dengan batasan lingkungan seperti dalam kasus di atas anak tidak mendapat mainan yang diinginkan, rasa frustrasi hebat muncul karena mereka belum memiliki keterampilan kognitif untuk memproses kekecewaan tersebut.
Sebelum Self-Regulation, Ada Co-Regulation
Banyak orang dewasa berharap anak usia dini bisa langsung "mengendalikan diri" saat marah. Padahal, menurut Lev Vygotsky, seorang anak mencapai kemampuan baru melalui bantuan orang dewasa (scaffolding) di dalam area yang disebut Zone of Proximal Development (ZPD).
Dalam konteks emosi, anak tidak bisa belajar mengendalikan dirinya (self-regulation) tanpa terlebih dahulu mengalami pengontrolan emosi bersama orang dewasa (co-regulation).
Ketika seorang guru tetap tenang saat menghadapi anak yang marah, terjadi beberapa hal penting:
Seorang guru tidak akan bisa menjadi "jangkar yang tenang" bagi anak jika tangki emosi dan jiwanya sendiri sedang kosong atau bergejolak. Sebelum guru mampu memandu co-regulation di kelas, guru terlebih dahulu harus melakukan regulasi diri secara mandiri (self-regulation for educator).
Di KBTK Al Hikmah Surabaya, sebelum menyambut kedatangan para siswa dan memulai kegiatan belajar, para guru berkumpul dalam sesi briefing pagi. Salah satu bagian terpenting dalam rutinitas ini adalah pembiasaan membersihkan hati dan menenangkan jiwa melalui membaca Al-Qur'an.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an di pagi hari menghadirkan suasana yang damai, khusyuk, dan menenteramkan. Secara psikologis dan spiritual, ritual pagi ini memberikan beberapa dampak positif bagi guru:
Langkah Praktis Menerapkan Ko-Regulasi di Kelas
Bagi kita para pendidik anak usia dini, menghadirkan ketenangan di tengah situasi emosional anak membutuhkan latihan dan kesadaran penuh (mindfulness). Berikut langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan:
Sebelum mendekati anak yang sedang marah, ambil napas dalam-dalam. Kita tidak bisa menenangkan anak jika kondisi internal kita sendiri sedang terancam atau ikut terpancing emosi.
Berjongkoklah hingga mata Anda sejajar dengan mata anak. Posisi ini mengurangi kesan dominasi dan memberikan rasa aman.
Berikan label pada emosi yang dirasakan anak tanpa harus langsung menuruti keinginannya.
Contoh: "Ibu tahu kamu kecewa dan marah karena belum bisa main balok sekarang. Rasanya memang tidak enak kalau harus menunggu."
Jangan terburu-buru menasihati saat emosi anak masih di puncak. Dampingi dalam diam hingga gelombang emosinya mereda.
Setelah anak tenang dan siap mendengarkan, baru gunakan prefrontal cortex-nya untuk diajak berpikir:
Contoh: "Nah, sekarang karena baloknya sedang dipakai, apa yang bisa kita lakukan sambil menunggu giliran?"
Kemampuan mengelola emosi dan regulasi diri bukanlah sifat bawaan yang muncul tiba-tiba saat anak bertambah usia. Regulasi diri adalah keterampilan hidup (life skill) yang dipelajari anak secara perlahan melalui proses peniruan dan pendampingan. Ketenangan seorang guru di saat anak mengalami ledakan emosi bukanlah tanda kelemahan atau pembiaran, melainkan bentuk bantuan (scaffolding) paling nyata. Dengan menjadi ruang aman dan tenang bagi anak, kita sedang membantu mereka membangun fondasi ketahanan emosi yang akan bermanfaat sepanjang hidup mereka.
Praktik baik di KBTK Al Hikmah Surabaya mengajarkan bahwa ketenangan guru bukanlah hal yang kebetulan, melainkan hasil dari persiapan ruhiyah dan pembersihan hati yang konsisten setiap pagi melalui Al-Qur'an. Dengan jiwa guru yang damai dan stabil, kita dapat menjadi ruang aman (co-regulator) yang kokoh bagi anak-anak, membantu mereka membangun fondasi ketahanan emosional yang kuat sepanjang hidupnya.
Surabaya, 22 Sepetember 2026